Selasa, 12 April 2016

PHYLUM ANNELIDA

Annelida berasal dari bahasa latin annelus berarti cincin kecil-kecil dan oidos berarti bentuk, karena bentuk cacing seperti sejumlah besar cincin kecil yang diuntai (Suwignyo,dkk. 2005).  Annelida sering disebut Annulata yaitu cacing yang bersegmen, hidup dalam air tawar, air laut, dan di darat. Beberapa diantaranya hidup sebagai parasit. Pada Annelida terdapat selom, yang dibagi septum-septum menjadi kompartemen-kompartemen. Hewan ini mempunyai sistem digesti, saraf, ekskresi, dan reproduksi yang majemuk. Sistem-sistem tersebut bersifat metamerik baik seluruhnya atau sebagian (Brotowijoyo. 1994).
Phylum Annelida terdiri dari sekitar 75.000 spesies, meliputi tiga kelompok besar yaitu polychaeta, oligochaeta, dan hirudinae (Suwignyo,dkk. 2005). 

A.  Kelas Polychaeta
Berasal dari bahasa Yunani, poly berarti banyak dan chaeta berarti setae atau sikat.  Umumnya berukuran panjang 5-10 cm dengan diameter 2-10 mm. pada sisi lateral ruas tubuh polychaeta kecuali kapala dan ujung posterior biasanya terdapat sepasang parapodia dengan sejumlah besar setae. Parapodia merupakan pelebaraan dinding tubuh yang pipih dan pada dasarnya biramus, beberapa uniramus, terdiri atas notopodium dan neuropodium yang masing-masing disangga oleh sebuah bahan kitin yang disebut acicula. Pada notopodium terdapat cirrus dorsal dan pada neuropodium terdapat cirrus ventral (Suwignyo,dkk. 2005). 
Susunan syaraf terpisah dari epidermis. Dibagian anterior terdapat ganglion otak yang terletak dibawah saluran pencernaan dan beberapa percabangan. Saluran pencernaan lengkap berbentuk tubular memanjang, terdiri dari mulut dengan sepasang gigi rahang, faring yang dapat dijulurkan, kerongkongan yang pendek, usus dan anus. Sistem sirkulasi tidak berhubungan dengan rongga tubuh (Harminto, dkk. 2004).
Contoh: Nereis Sp. Cacing ini terkenal sebagai cacing pendiam. Sistem digesti mulai dari faring ke esofagus dan terus ke usus, kedalam esofagus bermuara dua kantong kelenjar. Usus berkontraksi secara teratur (Brotowijoyo. 1994).

Gambar 1. Struktur kepala Nereis sp
Sumber: www.waterwereld.nu

Gambar 2. Nereis sp di habitatnya
Sumber: people.ucsc.edu


B.  Kelas Olighochaeta
Berasal dari bahasa Yunani yaitu oligos yang berarti sedikit dan chaeta yang berarti sikat. Ruas-ruas pada cacing dewasa dapat dikatakan sama bentuk dan ukurannya kecuali bagian anterior dan posterior (Suwignyo,dkk. 2005). 
Tubuh silindris memanjang terbagi menjadi beberapa segmen yanga berjumlah antara 115-200 dan dilengkapi otot memanjang maupun melingkar. Segmentasi eksternal dan internal dengan metamerisme cukup berkembang. Kepala kecil berbentuk kerucut tanpa tentakel, prostomium kecil, tanpa batil isap, dan tanpa mata. Saluran pencernaan lengkap berbentuk lurus dan terpisah dari sistem sirkulasi. Seta sedikit, tidak berbentuk berkas, tunggal, dan membentuk rangkaian tertentu. Parapodium sudah tereduksi. Rongga tubuh luas dan dipisahkan oleh septum melintang. Sistem peredaran darah tidak berhubungn dengan rongga tubuh. Susunan syaraf terpisah dari epidermis dan terdapat dibagian lapisan dalam otot (Harminto, dkk. 2004).
Contoh: Lumbricus terrestris (cacing tanah). Cacing tanah mempunyai bentuk memanjang, gilig dengan segmentasi yang nampak jelas dari luar sebagai lipatan-lipatan kutikula. Biasanya cacing tanah mempunyai lebih dari 100 metamer. Mulut berbentuk celah pada ujung anterior, dibawah penjuluran dorsal yang disebut prostomium. Anus terdapat pada ujung posterior (Brotowijoyo. 1994).
      Gambar 3. Lumbricus terrestris dihabitatnya
      Sumber: www.discoverlife.org

C.  Kelas Hirudinae
Biasa disebut lintah. Terdapat dilaut (jarang dijumpai), air tawar, dan darat. Lintah mudah dikenali dari bentuk ciri yang khas yaitu adanya 2 buah alat penghisap, anterior dan posterior, sehingga lintah dapat menempel dengan erat pada kedua ujungnya (Suwignyo,dkk. 2005). 
Contoh: Hirudo medicinalis (lintah) mempunyai tubuh pipih memanjang dengan sebuah prostomium. Segmentasi eksternal terdiri dari kurang lebih 32 ruas, tubuh bagian luar terbagi menjadi banyak annulus. Metamerisme tereduksi, walau lapisan cincin diluarnya menyamarkan segementasi primer. Segmen-segmen ujung anterior dan posterior dapat termodifikasi menjadi alat penghisap. Terdapat minimal satu batil alat penghisap. Batil isap anterior sekeliling mulut dengan bentuk beragam, batil isap posterior mencolok sedangkan prostomium sangat kecil. Klitelium dibentuk pada segmen ke 9, 10, atau 11 (Harminto, dkk. 2004).


Gambar 4. Struktur tubuh Hirudo medicinalis. 
Sumber: www.ub.edu


Gambar 5. Hirudo medicinalis dihabitatnya
Sumber: bioweb.uwlax.edu

DAFTAR PUSTAKA

Brotowijoyo, S. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Harminto, dkk. 2004. Taksonomi avertebrata. Jakarta universitas terbuka
Suwignyo, dkk. 2005. Avertebrata air. Jakarta: penebar swadaya