PHYLUM ANNELIDA
Annelida berasal dari
bahasa latin annelus berarti cincin kecil-kecil dan oidos berarti bentuk,
karena bentuk cacing seperti sejumlah besar cincin kecil yang diuntai
(Suwignyo,dkk. 2005). Annelida sering
disebut Annulata yaitu cacing yang bersegmen, hidup dalam air tawar, air laut,
dan di darat. Beberapa diantaranya hidup sebagai parasit. Pada Annelida
terdapat selom, yang dibagi septum-septum menjadi kompartemen-kompartemen.
Hewan ini mempunyai sistem digesti, saraf, ekskresi, dan reproduksi yang
majemuk. Sistem-sistem tersebut bersifat metamerik baik seluruhnya atau
sebagian (Brotowijoyo. 1994).
Phylum Annelida terdiri
dari sekitar 75.000 spesies, meliputi tiga kelompok besar yaitu polychaeta,
oligochaeta, dan hirudinae (Suwignyo,dkk. 2005).
A. Kelas Polychaeta
Berasal
dari bahasa Yunani, poly berarti banyak dan chaeta berarti setae atau
sikat. Umumnya berukuran panjang 5-10 cm
dengan diameter 2-10 mm. pada sisi lateral ruas tubuh polychaeta kecuali kapala
dan ujung posterior biasanya terdapat sepasang parapodia dengan sejumlah besar
setae. Parapodia merupakan pelebaraan dinding tubuh yang pipih dan pada
dasarnya biramus, beberapa uniramus, terdiri atas notopodium dan neuropodium
yang masing-masing disangga oleh sebuah bahan kitin yang disebut acicula. Pada
notopodium terdapat cirrus dorsal dan pada neuropodium terdapat cirrus ventral (Suwignyo,dkk.
2005).
Susunan
syaraf terpisah dari epidermis. Dibagian anterior terdapat ganglion otak yang
terletak dibawah saluran pencernaan dan beberapa percabangan. Saluran
pencernaan lengkap berbentuk tubular memanjang, terdiri dari mulut dengan
sepasang gigi rahang, faring yang dapat dijulurkan, kerongkongan yang pendek,
usus dan anus. Sistem sirkulasi tidak berhubungan dengan rongga tubuh (Harminto,
dkk. 2004).
Contoh:
Nereis Sp. Cacing ini terkenal
sebagai cacing pendiam. Sistem digesti mulai dari faring ke esofagus dan terus
ke usus, kedalam esofagus bermuara dua kantong kelenjar. Usus berkontraksi
secara teratur (Brotowijoyo. 1994).


Gambar 1. Struktur kepala Nereis sp
Berasal
dari bahasa Yunani yaitu oligos yang berarti sedikit dan chaeta
yang berarti sikat. Ruas-ruas pada cacing dewasa dapat dikatakan sama
bentuk dan ukurannya kecuali bagian anterior dan posterior (Suwignyo,dkk. 2005).
Tubuh
silindris memanjang terbagi menjadi beberapa segmen yanga berjumlah antara 115-200
dan dilengkapi otot memanjang maupun melingkar. Segmentasi eksternal dan
internal dengan metamerisme cukup berkembang. Kepala kecil berbentuk kerucut
tanpa tentakel, prostomium kecil, tanpa batil isap, dan tanpa mata. Saluran
pencernaan lengkap berbentuk lurus dan terpisah dari sistem sirkulasi. Seta
sedikit, tidak berbentuk berkas, tunggal, dan membentuk rangkaian tertentu.
Parapodium sudah tereduksi. Rongga tubuh luas dan dipisahkan oleh septum
melintang. Sistem peredaran darah tidak berhubungn dengan rongga tubuh. Susunan
syaraf terpisah dari epidermis dan terdapat dibagian lapisan dalam otot (Harminto,
dkk. 2004).
Contoh:
Lumbricus terrestris (cacing tanah). Cacing
tanah mempunyai bentuk memanjang, gilig dengan segmentasi yang nampak jelas
dari luar sebagai lipatan-lipatan kutikula. Biasanya cacing tanah mempunyai
lebih dari 100 metamer. Mulut berbentuk celah pada ujung anterior, dibawah
penjuluran dorsal yang disebut prostomium. Anus terdapat pada ujung posterior
(Brotowijoyo. 1994).


Gambar
3. Lumbricus terrestris dihabitatnya
Sumber:
www.discoverlife.org
|
C. Kelas Hirudinae
Biasa
disebut lintah. Terdapat dilaut (jarang dijumpai), air tawar, dan darat. Lintah
mudah dikenali dari bentuk ciri yang khas yaitu adanya 2 buah alat penghisap,
anterior dan posterior, sehingga lintah dapat menempel dengan erat pada kedua
ujungnya (Suwignyo,dkk. 2005).
Contoh:
Hirudo medicinalis (lintah) mempunyai
tubuh pipih memanjang dengan sebuah prostomium. Segmentasi eksternal terdiri
dari kurang lebih 32 ruas, tubuh bagian luar terbagi menjadi banyak annulus.
Metamerisme tereduksi, walau lapisan cincin diluarnya menyamarkan segementasi
primer. Segmen-segmen ujung anterior dan posterior dapat termodifikasi menjadi
alat penghisap. Terdapat minimal satu batil alat penghisap. Batil isap anterior
sekeliling mulut dengan bentuk beragam, batil isap posterior mencolok sedangkan
prostomium sangat kecil. Klitelium dibentuk pada segmen ke 9, 10, atau 11 (Harminto,
dkk. 2004).

Gambar 4. Struktur tubuh Hirudo medicinalis.
Sumber: www.ub.edu


Gambar 4. Struktur tubuh Hirudo medicinalis.
Sumber: www.ub.edu

Gambar 5. Hirudo medicinalis dihabitatnya
Sumber: bioweb.uwlax.edu
DAFTAR PUSTAKA
Brotowijoyo, S. 1994.
Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Harminto, dkk. 2004.
Taksonomi avertebrata. Jakarta universitas terbuka
Suwignyo, dkk. 2005.
Avertebrata air. Jakarta: penebar swadaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar